Meneduhkan Al-Qolam Dengan Firman Dan Kalam

Advertisemen
Gambar : Meneduhkan Al-Qolam dengan Firman dan Kalam
Firman Allah SWT masa-masa sekarang sedang menjadi fenomena yang lagi mencuat ke permukaan (bomming) di tengah-tengah masyarakat, terutama di kalangan lembaga pendidikan agama. Hampir-hampir semua lembaga pendidikan Islam memasukkan materi Al-Qur'an ke dalam bagian struktur kurikulum pendidikannya. Walaupun Al-Qur'an belum terintegrasi secara komprehensif ke dalam aspek muatan ilmu-ilmu yang diprogramkan, tetapi setidaknya perkembangan ini telah membuat bangga banyak pihak, terutama para orang tua yang mulai mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya.

Sebagaimana maklum zaman sekarang, sudah terendus indikasi kalangan pemuda Islam yang kian jauh dari ajaran Al-Qur'an. Bahkan hal yang sangat menggelisahkan dan mengenaskan seringkali ditemukan fakta anak-anak muslim yang mengeja huruf-huruf Al-Furqan itu saja sudah tidak mampu, apalagi membaca yang tepat dan benar sesuai ilmu tajwid mereka tak ubahnya seperti macan ompong yang hanya bisa mendesis.

Oleh karena itu, kehadiran tempat pendidikan yang memperhatikan kalam ilahi ini disambut bak bidadari turun dari kahyangan oleh para orang tua. Kegembiraan mereka disebabkan oleh kegelisahan sementara mereka setelah menyaksikan situasi perkembangan putra-putrinya yang terus saja digilas pengaruh-pengaruh buruk lingkungan dan gejala-gejala pertumbuhan media yang semakin mengglobal. Gelombang kemajuan zaman melahirkan dampak terhadap cara berfikir dan bersikap pemuda dan bahkan anak-anak di bawah usia yang seakan dewasa sebelum waktunya. Anak-anak itu berubah drastis dalam perilaku, khususnya pada masalah penggunaan waktu yang seharusnya dimanfaatkan buat belajar menjadi tertukar oleh ragam kegiatan di luar aktifitas mengejar ilmu pengetahuan. Contoh yang bisa diangkat antara lain, segolongan pemuda seusia sekolah yang cuma bergerombol sesama temannya meninggalkan kewajiban masuk sekolah. Duduk di atas sepeda motor, mereka merasa gagah dengan rokok yang dinikmati disertai minuman tanpa mengingat bahwa mereka alpa dalam lembar absensi kelas. Di bagian lain, pemuda putus sekolah melakukan kebut-kebutan di jalan umum tanpa mempertimbangkan keselamatan diri atau orang lain, dan tidak peduli lagi perilaku mereka tidak saja mengganggu pengguna jalan tetapi telah meresahkan masyarakat.

Kenakalan remaja kian kelam saja setelah muncul berbagai kasus murid melawan gurunya dengan berbagai macam kekerasan di lingkungan pendidikan. Kasus demi kasus pelaporan murid atau wali atas gurunya terus saja mengemuka di pelataran media-media dan masyarakat, khusunya para orang tua, nyaris nurani mereka tersayat akibat kasus-kasus tersebut. Peristiwa yang paling menyedihkan ialah hubungan dan pergaulan lawan jenis yang pelakunya ternyata terdiri dari pelajar sekolah dimana kenyataan ini sudah melewati batas-batas agama. Anak-anak sekolah sekaligus peserta didik yang diharapkan lahir sebagai generasi masa depan rupanya telah kehilangan rasa malu. Gelagat ini dapat dibaca dari perilaku mereka yang bergaul putra-putri begitu bebas, mulai dari interaksi yang dinilai berbobot ringan seperti selfi bersama, atau berfoto sambil memamerkan aurat, sampai kepada hubungan intim yang mengarah pada kontak fisik. Hal demikian dilakukan dalam keadaan penuh kesadaran dan tanpa terselip sedikit perasaan melanggar terhadap ajaran agama yang diyakininya. Globalisasi informasi yang telah menciutkan dunia menyebabkan tata nilai dan norma agama tergerus habis dan hanya menyisakan ritual-ritual seremoni belaka yang kering makna. Moralitas dan budaya ketimuran yang selama ini menjadi kultur serta jati diri negeri ini tampak sudah tidak lagi dipedomani anak bangsa.

Tumbuhnya perhatian dan pembelajaran Al-Qur'an bagi anak-anak di lembaga pendidikan merupakan angin surga yang bakal meniupkan kesejukan buat para orang tua.

PROGRAM TAHFIDZ BERKESINAMBUNGAN

Belakangan ini banyak lembaga pendidikan sudah mulai membuka diri bagi penghafal Al-Qur'an seluas-luasnya. Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa keprihatinan masyarakat terhadap kenakalan remaja hanya bisa diminimalisir oleh nilai-nilai luhur dari kalam ilahi. Jika UIN Malang memberikan beasiswa bagi penghafal firman Tuhan itu merupakan fakta biasa, tetapi apabila STIKES menggratiskan biaya pendidikan bagi penghafal itu maka fenomena tersebut menjadi informasi gembira yang luar biasa buat para orang tua. Bagaimana tidak, sebuah lembaga pendidikan dengan background kesehatan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi mereka. Kenyataan ini menunjukkan betapa Al-Qur'an sangat di percaya sebagai solusi terbaik menyelesaikan persoalan-persoalan degradasi moral generasi bangsa yang kian menyesakkan dada.

Tidak dalam rangka mengikuti trend lembaga-lembaga pendidikan, semenjak tahun ini (2016) IAI Al-Qolam yang berlokasi di Putat Lor Gondanglegi Malang itu mempersembahkan peluang masuk tanpa dana bagi penjaga ayat-ayat Tuhan.

Tentu teknis masuk ke kampus hijau ini sama seperti perguruan tinggi lain yaitu melewati tes hasil hafalan yang dimiliki oleh calon mahasiswa. Hanya saja tata cara yang akan digunakan melalui seleksi secara komprehensif, yaitu mendemonstrasikan hafalan sebanyak standar yang sudah ditentukan oleh pengelola tes. Batasan perolehan hafalan dihargai persepuluh juz dua semester dispensasi. Dalam hal ini mahasiswa jalur tahfidz perlu meningkatkan jenjang hafalannya, jika menghendaki keringanan tahap berikutnya.

Oleh karena itu, para mahasiswa huffadz ini akan mendapatkan bimbingan secara kontinyu dari kampus. Memang manajemen pengelolaan berkaitan dengan bimbingan belum diatur secara teknis, tetapi prinsip-prinsip dasar ke depan berkaitan dengan persoalan bimbingan sudah disepakati oleh para pimpinan rektorat. Pada saat yang tidak lama sejalan dengan proses seleksi, Al-Qolam akan memiliki lembaga yang khusus menangani kelanjutan tahfidz para mahasiswa. Kegiatan tahfidz berkelanjutan ini tentu mempunyai prospek yang menjanjikan utamanya bagi para penghafal Al-Qur'an, diantaranya disebabkan oleh beberapa hal:

1) Lingkungan Al-Qolam yang dikelilingi oleh beberapa pesantren dipandang cukup menunjang terhadap pelestarian hasil hafalan. Sebagaimana dimaklumi, selain sistem akademik yang tumbuh di dunia pesantren bercorak pendidikan dan pengawasan penuh 24 jam dari kiai, para pembimbing (musyrif) serta pengurus juga kulturnya yang menjamin terjaga dari pengaruh-pengaruh dari luar pagar pesantren karena pergaulan santri lebih terisolir dari kecamuk kebebasan alam luar pesantren. Situasi ini pasti menguntungkan bagi mahasiswa hafidz pada tingkat pemeliharaan dan kecepatan proses tahfidz.

2) Bimbingan yang diancang oleh Al-Qolam akan ditangani oleh para tenaga yang cukup kompeten dibidang Tahfidzul Qur'an. Beberapa pengasuh pesantren tahfidz di sekitar kampus Al-Qolam siap menyertai para mahasiswa huffadz dalam pelestarian hafalan dan peningkatan proses tahfidznya.
Program tahfidz yang diluncurkan Al-Qolam merupakan salah satu ikhtiar kampus yang memiliki visi "sebagai perguruan tinggi riset berbasis pesantren" itu dalam keikutsertaannya menanggulangi kenakalan remaja yang semakin merebak. Indikasi kemerosotan moralitas pemuda kian terasa dengan berbagai ragam pergaulan bebas yang tidak terkendali. Lembaga pendidikan, kegiatan religi dan perhatian orang tua terlihat mulai tumpul untuk membentengi perkembangan kenakalan yang justeru bergelinding begitu cepat. Lebih-lebih secara terbuka, presiden Jokowi dengan tanpa aling-aling menyebutkan tentang penyebaran narkoba di Indonesia yang merata tidak kenal usia sudah sampai pada tingkat darurat. Statemen ini mengindikasikan bahwa kenakalan remaja merupakan bagian dari problematika bangsa yang wajib ditangani secara serius bukan saja oleh pemegang kekuasaan tetapi seluruh pihak, termasuk tingkat perguruan tinggi.

MOMENTUM INTEGRASI-INTERKONEKSI KEILMUAN

Pada aspek minimalisir degradasi moral, program Al-Qolam di bidang Tahgidzil Qur'an menjadi salah satu agenda yang sangat urgen dalam rangka memagari para mahasiswa muslim dari keterjerumusan ke dalam kubangan kemerosotan akhlak. Sementara pada sisi lain, senyampang semangat mengeksplorasi kandungan mutiara-mutiara ilmiah dalam Al-Qur'an masih tetap membara, maka integrasi keilmuan pasti dapat digali dan dikembangkan oleh para mahasiswa hafidz.

Integrasi keilmuan ini penting mendapat perhatian semua pihak sebab perkembangan keilmuan hingga saat ini masih terpisah secara dikotomis antardisiplin ilmu pengetahuan. Padahal sudah diketahui bersama bahwa pemisahan ilmu itu bagian dari korban sejarah masa penjajahan yang dibuat langkah-langkahnya oleh Belanda dalam rangka menjarakkan kerangka ilmu pengetahuan. Dikotomi itu memang dimaksudkan sebagai bagian dari strategi mengupayakan tumbuh-kembangnya gerakan liberalisme di tanah air. Sehingga dengan keadaan demikian, dunia pesantren yang dianggap sebagai lumbung moralitas rakyat bisa dijauhkan dari hiruk pikuk politik, ekonomi dan budaya. Berkaitan dengan persoalan keilmuan tersebut, rancang bangun filsafat keilmuan Rektor IAI Al-Qolam yang mencoba menggagas integrasi-interkoneksi di kampus hijau sungguh menemukan momennya. Sebuah inspirasi "ijtihad ilmiah" yang banyak berkiblat kepada pikiran-pikiran kreatif Amin Abdullah (Jogjakarta).

Selama ini masyarakat terlanjur lebih akrab dengan paradigma keilmuan yang bersifat dikotomis, seperti "ilmu agama dan ilmu umum", atau "agama dan sains". Oleh sebab itulah diperlukan apa yang disebutkan Amin Abdullah dengan "gerakan penyatuan" (rappoachment) atau istilah lain "reintegrasi epistemologi", baik yang terkait dengan sumber dan asal usul (Origins), cara (methods) dan tolok ukur kebenaran (validities) suatu pengetahuan. Berkaitan dengan sumber, asumsi dasar gerakan ini berpijak pada pengakuan secara berimbang terhadap dua sumber dasar pengetahuan; wahyu (Al-Qur'an dan hadits) dan manusia (akal). Sehubungan dengan cara/metode yang perlu ditekankan ialah menemukan benang merah antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Pada tingkatan tolok ukur kebenaran adalah upaya mempertautkan secara sinergis antara tiga pilar epistemologi dalam tradisi nalar Islam, yakni menalar teks nash dan realita (epistemologi bayani), menalar realitas dan penalaran logis (epistemologi burhani) dan menalar penghayatan dan internalisasi ragam rasa (epistemologi irfani). Gerakan ini membutuhkan pengembangan pendidikan interdisipliner keilmuan, sehingga firman Tuhan yang menyinggung soal alam misalnya, bisa didekati dengan ilmu pengetahuan alam atau ayat-ayat Tuhan itu justeru dijadikan sumber inspirasi ilmu tersebut.

Gerakan "perkawinan" antar-disipliner ilmu pengetahuan di lingkungan Al-Qolam meniscayakan adanya kegiatan ilmiah dan kajian-kajian intensif kaum akademisinya. Dari sinilah, pusat-pusat kajian perlu dirancang secara matang, baik dari sisi konsep maupun dari aspek finansial, oleh kampus guna memfasilitasi pengembangan pengetahuan komprehensif dan interdisipliner. Gebrakan ini diharapkan bisa dimobilisir oleh mahasiswa tahfidz sebagai motor penggeraknya sebab disamping mereka menghafal ayat-ayat Tuhan (hamalah Al-Qur'an) mereka juga punya kesempatan lebih besar untuk memperluas rahasia-rahasia firman dalam dalam berbagai perspektif lewat kajian-kajian yang bisa melibatkan dosen, mahasiswa dan bahkan para ahli dari luar kampus hijau ini.[Wallahu a'lam]

Oleh: Muhammad Madarik
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments