[Cerpen] Letak Cinta Tuhan

Advertisemen
Karya : Herwiningsih
Sebulan lamannya ia menjadi seorang pengajar di sebuah pesantren yang terletak di daerah Pacitan. Hari-harinya pun kian padat. Sehingga dirinya tidak memiliki kesempatan pulang ke kampung halamannya. Dan suatu ketika ia mendapat kabar bahwa ibunya dalam keadaan sakit. Pemuda ini pun memutuskan pulang demi merawat sang ibu. Saat berpamitan kepada Romo Yai ia mendapat pesan untuk segera kembali setelah sang ibu sembuh. Mengingat padatnya kegiatan santri yang perlu adanya pantauan dari para asatidz. Setelah menemui Romo Yai ia pun segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas pulang.
***
            Matahari pagi telah menyingsing setinggi tombak menunjukkan tibanya waktu dhuha. Namun di sebuah rumah nampak seorang pemuda yang masih terlelap dalam tidurnya.

“ Nizar bangun... matahari sudah tinggi!” terdengarsuaralantang seorang wanita dari arah dapur. Pemuda itu hanya menggeliyat. Dan tak lama kemudian perempuan itu menggedor pintu kamar pemuda itu “ Dor... dor... dor...”

Karena jengkel dengan pemuda tersebut, perempuan itupun masuk ke dalam kamar dengan membawa segayung air dan menyiramkannya pada si pemuda.

Pemuda itupun terkejut dan seketika terbangun “ Ah ibu...” gumamnya “Shalat nak shalat! Kamu ini lulusan pesantren. Masak waktu shalat saja lalai” ucap perempuan itu jengkel. Dan akhirnya pemuda itupun berjalan gontai menuju kamar mandi.
***
            Hembusan angin begitu terasa menyejukkan jiwa. Terlihat seorang gadis berkaca mata berdiri di tepi jalan dengan tangan melambai. Sesaat kemudian tepat di hadapannya sebuah mobil berhenti. Sesegera mungkin ia masuk dan mengisi kursi yang masih kosong. Dan tepat di depan gedung besar bertuliskan Universitas Negeri Malang mobil yang ditumpanginya berhenti. Dengan langkah cepat ia pun turun dan memasuki gedung itu.

“ Nafisah...!” langkahnya terhenti. Terlihat seorang gadis yang tengah duduk santai dengan tas ransel di sampingnya.

“ Eh iya Tania...! Maaf ya tan, aku buru-buru nih. Sampai ketemu nanti ya!” Ia melangkah kan kakinya dengan cepat.
***
            Dalam malam yang hening terlihat seorang pemuda yang tengah larut dalam sujudnya. Terdengar suara perempuan yang tengah terbatuk-batuk menghentikan ritual si pemuda. Pemuda itu menghampiri sumber suara dengan segelas air putih di tangannya. Perlahan ia meminumkannya pada perempuan yang ia panggil ibu itu.

“ Halim, ibu sudah tua dan sering sakit-sakitan. Selalu saja merepotakan kamu dan ayah kamu...” ucap perempuan itu.

“ Ibu, yang sabar ya... ibu harus yakin bahwa ibu pasti sembuh..!”

“ Amien..!”
***
            Lemari besar berisikan puluhan kitab klasik dan puluhan buku terlihat menghiasi sebuah ruangan. Selain itu di dalamnya terdapat tempat tidur. Dan lampu terang yang tengah menerangi seorang gadis yang tangah asyik menikmati bacaannya.

“ Nafisah...” terdengar suara perempuan tua memanggil gadis itu. Iapun menghampiri sumber suara. 

“ Ada apa, nek?”

“ Kata ayah kamu tadi suruh menggantikannya mengajar di kelas 2 ulya putri”

“ Memangnya ayah kemana?”

“ Ayah kamu di ajak kakekmu sowan ke rumah temannya di Pacitan. Ayo cepetan anak-anak sudah nunggu itu...”

“ Iya nek, sebentar Nafis siap-siap dulu...”
***
            “ Koran... koran..., koran pak, buk...”. Nampak seorang lelaki gemuk berjalan ke arah penjual koran. Koran itupun berpindah tangan. Lelaki itu membawanya ke teras serta merta membacanya. Tak lama kemudian keluarlah seorang pemuda dengan penampilan rapi. Ia menghampiri lelaki gemuk itu. “ Yah Nizar kuliah dulu...” ucapnya.

Lelaki itu hanya mengangguk.  “ Mata kuliah kamu sampai larut malam?” tanya sang ayah dengan sedikit mengintrogasi.

“ Ayah kan tau aku organisatoris alias aktifis... hehehe” jawabnya cengengesan.

“ Aktifis ya aktifis tapi shalatnya jangan dilupakan seperti itu...” sahut sang ibu dari dalam rumah. Sang ayah hanya geleng-geleng kepala meresponnya.

“ Mentang-mentang mahasiswa, Tuhan diduakan dengan Aries Toteles, Plato, Emile Durkheim dan lainnya itu...” ucap ayah santai.
Nizar hanya tertunduk diam tidak berani menatap ayahnya.

“ Sudah beragkat sana...” ucap sang ayah. Iapun berangkat.
***
            Sebulan lamanya Halim merawat sang ibu. Keadaan sang ibu pun kian membaik dan sudah sembuh. Ia pun kembali ke pesantren untuk melaksankan tugasnya sebagai seorang pengajar.

“ Jadilah contoh yang baik buat murid-muridmu di sana!” pesan sang ibu

“ Insyaallah bu, dan semoga ibu selalu sehat di rumah dengan ayah”.Sang ibu mengangguk.

            Meski hatinya berat ia pun tetap kembali ke Pacitan demi pengabdiannya pada pesantren. “Hati-hati di jalan...” ucap sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Halim mengangguk seraya mencium tangan sang ibu. Dengan tas ransel di punggungnya iapun masuk ke travel.
***
            “ Fis, kamu nanti bisa datang?” tanya Tania pada Nafisah yang duduk di bawah pohon rindang.

“ Acaranya sampai malam gak?” Nafisah balik bertanya.

“ Pastinya lah, fis”

“ Mana boleh aku sama ayah, malah tadi dia pesan kalau pulang jangan malam-malam gitu”.

“ Aduh, padahal semuanya mengharap kamu datang lho...”

“ Kapan-kapan ya, insyaallah aku usahakan bisa datang”

“ Ya sudahlah, aku gak maksa kalau gak bisa”

Nafisah tersenyum. Taniapun diam, dan akhirnya beranjak meninggalkan Nafisah yang asyik menikmati sejuknya semilir angin.

            Waktu sudah mulai petang Nafisah pun pulang. Tepat di depan gerbang ia bertemu dengan Nizar. Dengan tersenyum Nizar berkata pada Nafisah “ Gak ikut acara nanti...?”

“ Aduh maaf ya! Saya gak bisa kalau nanti, kapan-kapan aja ya. Insyaallah saya bisa hadir. Sekali lagi maaf sudah mengecewakan”

“ Oh iya tidak apa-apa, lain kali saya tunggu..! saya selalu mengharap kedatagannya”.

“ Iya bapak ketua, kalau gitu saya duluan ya! Permisi”. Nafisah melangkahkan kakinya dengan cepat.
***
            Seusai shalat isya’ Nafisah segera menuju ruangan sang ayah. Dengan perasaan penasaran ia pun masuk dan duduk tepat di depan ayahnya. Tak sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Sang ayah memindah posisi duduknya dari yang semula.

“ Ayah mau tanya apakah kamu selama ini dekat dengan seorang pemuda?”

“ Tidak yah, Nafis masih ingin fokus pada pendidikan dan mimpi-mimpi Nafis dulu”

“Ayah tau, tapi kamu bukan anak kecil lagi fis, kamu sudah harus berpikir tentang itu juga. Ayah selalu mengerti bahwa kamu masih mau melanjutkan pendidikan kamu. Tapi perempuan itu rawan fitnah nak, ayah juga gak akan memaksakan keinginan ayah padamu. Ayah memberi kamu kebebasan hanya saja dengan syarat kamu sudah punya suami. Kamu jangan berpikiran bahwa bersuami akan menghambat belajarmu. Lihat kak nisa, dia tetap bisa melanjutkan belajar sampai sekarang meski dia sudah bersuami. Silahkan kamu keliling dunia asalkan memenuhi syarat tadi itu”

“ Iya ayah, Nafis mengerti maksud ayah. Tapi selama ini Nafisah belum pernah bisa cocok dengan siapapun”.

Sang ayah tersenyum “ Karena kamu terlalu memilih”

“ Jelasnya untuk hidup selamannya harus memilih kan yah?”
Sang ayah membuka laci meja dan menyodorkan sebuah foto kepada Nafisah.

“ Kamu lihat foto pemuda itu, mungkin saja bisa cocok nak. Dia santri teman kakek di Pacitan namanya Halim. Dia pemuda yang tekun dan seorang ustadz di sana. Ayah rasa dia cocok denganmu” ucap sang ayah yakin. Mendengar ucapan ayahnya itu, perasaan Nafisah semakin tak karuan. Dalam hatinya bergumam, mengapa ayahnya begitu yakin dengan pemuda di foto itu. Padahal dia belum tau benar seperti apa pemuda itu. Kebenaran tidak bisa dibuktikan hanya dengan pendapat orang. Iapun keluar dari ruangan ayahnya dengan raut wajah lesu.
***
            Jam menunjukkan pukul 21.00 acara di malam itu berlangsung lancar.

“ Alhamdulillah acaranya bisa meriah seperti ini ya, zar!” ucap Firman senang. Nizar tidak menanggapi ucapan Firman.

“ Masyaallah, aku dikacangin...!” ucapan Firman mengejutkan Nizar.

“ Eh iya man, acaranya lumayan. Tapi masih ada yang kurang!” gumam Nizar.

“ Kurang apaan? Wong semuanya tertata rapi gitu dan lengkap semua”

“ Yang hadir...”

“ Yang hadir? Sebanyak ini kamu bilang kurang. Bersyukur zar udah ada yang datang”

“ Jelas kurang lah, soalnya yang di harap-harapkan gak datang” sahut Andi ikut nimbrung.

“ Oooo... gitu ternyata, walah dari tadi gak semangat itu masalahnya hanya karena Nafisah gak datang” sambung Firman

“ Apaan sih kalian ini”

Nizar beranjak dari tempat duduknya menjauh dari teman-temannya. Ia selalu berpikir antara salah atau benar jika dirinya menyukai Nafisah yang begitu nampak sempurna di matanya. Namun dirinya masih begitu bobrok dalam segala hal yang bersangkutan dengan Tuhan.
***
            Tak hanya Nafisah yang mendapatkan foto Halim. Namun Halimpun juga sudah melihat foto Nafisah yang nampak begitu anggun dibalut kerudung biru. Dalam hatinya bertasbih saat melihat foto itu. tak sekedar melihat foto, iapun juga telah diberi tahu tentang segala hal yang menyangkut Nafisah oleh romo yai. Hatinya semakin bergelora dan serasa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

“ Lim, kalau kamu mau nanti saya pertemukan dengan orangnya. Dan jika kamu merasa cocok nanti biar saya yang melamarkannya untukmu”

“ Enjeh Yai”

Halim memikirkannya dengan matang tentang perjodohan itu. Ia berpikir bahwa gadis itu pasti baik apalagi dari keluarga yang baik pula.

            Keesokan harinya ia menyampaikan kepada romo Yai bahwa dirinya setuju untuk dipertemukan dengan Nafisah. Dan tak lama kemudian romo yai mengajaknya ke Malang untuk mempertemukannya dengan Nafisah. Saat Halim sampai di rumah Nafisah, ketika itu Nafisah hendak mengisi pengajian di kelas putri. Tepat di depannya sebuah mobil sedan berhenti. Orang di mobil itu pun turun.

“ Assalamu’alaikum”

“ Wa’alaikum salam, monggo masuk!” Nafisah mempersilahkan tanpa melihat siapa yang bertamu. Halim begitu terkagum-kagum saat melihat Nafisah.

“ Ini ya yang namanya Nafisah?” tanya Romo Yai

“ Enjeh, dari mana ini ya?”

“ Temannya kakek kamu yang di Pacitan itu” jawab romo yai.

Nafisah tersentak kaget, ditambah melihat sosok pemuda di samping romo yai. Ia langsung tergelagap “ E.. e.. e.. sebentar saya panggilkan kakek dulu” Ia segera beranjak meninggalkan Romo Yai dan Halim.

            Tak lama kemudian kakek dan ayah Nafisah datang. Mereka pun berbincang hangat dengan ditemani hidangan khas Malang. Para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan sembari menunggu kedatangan Nafisah. Jantung Halim tak henti-hentinya berdetak tak teratur. Dirinya mulai salah tingkah saat Nafisah datang dan duduk tepat di depannya.

“ Ini Halim yang ayah ceritakan padamu itu, ayah harap kalian bisa saling mengenal satu sama lain sebelum melangkah lebih jauh” ucap ayah Nafisah dengan wajah bahagia.

Nafisah terkejut mendengar kata-kata ayahnya itu. Pikirannya semakin kacau, ia tidak yakin bahwa dirinya bisa berhubungan lebih jauh dengan pemuda itu.
***
            Tak kalah dilemannya dengan Nafisah, Nizarpun mulai dihantui dengan perasaan yang semakin menjadi-jadi. Hari-harinya semakin hampa dan iapun seringkali melamun.

“ Nizar, acara sudah bisa dimulai, kamu siap-siap ya buat sambutan nanti” ucap Tania. Nizar mengangguk. Dan tak lama kemudian Nafisah datang. Dia meminta maaf atas kedatangannya yang telat kepada seluruh teman-temannya. Melihat kedatangan Nafisah, jiwa Nizar seakan hidup kembali. 

“ Gak papa, masih belum telat kok. Saya senang sekali kamu bisa datang” ucap Nizar dengan wajah bahagia.

“ Hemmmm... senengnya!” goda Tania
Nafisah tersenyum. Iapun mengambil posisi nyaman untuk bersandar. Sesekali ia melihat ke arah Nizar yang tengah menyampaikan sambutan. Ia merasakan hal yang aneh pada pemuda cerdas yang berdiri di depan puluhan orang itu. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara pesan masuk di ponselnya. Ia membacanya, ternyata pesan itu dari Halim.
Assalamu’alaikum...
bagaimana kabarnya antum di sana neng?
dan sedang apakah gerangan saat ini?
Nafisah membalasnya
Wa’alaikum salam...
kabar saya baik, dan saya ada di kampus.
Tak sadar saat Nafisah menoleh, di sampingnya sudah ada Nizar. Iapun terkejut “ Astaghfirullah” gumamnya lirih.

“ Fis, aku boleh bertanya sesuatu?”

“ Silahkan... tidak ada larangan untuk siapapun yang mau bertanya”

“ Jika ada seorang lelaki yang bobrok perilakunya dan seringkali melupakan tuhannya apa pantas suka pada seorang gadis yang baik perangainya dan begitu istiqomah menjalankan syariat?”

“ Pantas. Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan tidak ada larangan bagi lelaki itu menyukai gadis tadi. Apalagi jika lelaki tadi mau membenahi dirinya. Memang mata melihat secara jelas bentuk luar suatu hal tapi hati yang lebih paham akan rasa yang tersembunyi”

“ Dan apa mungkin gadis tadi mau menerima lelaki tadi?”

“ Ikhtiar dulu baru tawakkal. Seharusnya lelaki tadi mengutarakan tentang perasaannya dulu pada si gadis. Urusan mau atau tidak itu sudah jadi ketetapan tuhan”
Terdengar lagi bunyi pesan masuk di ponsel Nafisah.

Lho jam segini perempuan masih di luar rumah. Gak pantas...
cepat pulang! Seharusnya kalo sudah jam segini perempuan itu sudah di rumah jangan kelayapan.

Nafisah terkejut membacanya, iapun sangat marah dan membiarkannya tanpa membalas. Melihat Nizar yang bingung dengan penjelasannya, Nafisah menambahkan “ Ingat mas Nizar, gak ada yang gak mungkin. Di situlah letak cinta tuhan”Nafisah tersenyum.
***
Waktupun mulai malam, namun Nafisah belum bisa terlelap. Dari arah pintu terdengar ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.

“ Belum tidur?”

“ Eh kakek, belum bisa tidur Nafisah? Tumben ke kamar Nafis, ada apa kek” ucap Nafis pada kakeknya.

“ Kakek merasakan hal aneh. Kamu baik-baik saja?”

“ Nafisah baik-baik saja kok kek. Memangnya kenapa?”

“ Bagaimana hubungan kamu dengan Halim itu?”

Mendengar ucapan sang kakek Nafisah bangun dan duduk di sampingnya. Ia menjelaskan semuanya pada sang kakek. Ditambah pula dengan bukti pesan-pesan yang dikirim oleh Halim yang menurutnya terlalu otoriter.

“ Sepertinya Nafis gak cocok sama dia, kek!” ucapnya setengah berbisik. Setelah mendengar penjelasan Nafisah. Sang kakek mencoba mengerti akan perasaan cucunya yang selalu haus akan ilmu dan pengalaman itu. Iapun memeluk cucunya dengan penuh kasih sayang.
***
Karena ia sudah tidak kuat dengan kekacauan hati yang dialaminya. Iapun memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Nafisah. Agar kegundahan itu hilang dari kalbunya. Dengan tekad yang kuat iapun memberanikan diri menemui Nafisah.

“ Boleh saya duduk di sini?” izin Nizar pada Nafisah yang tengah asyik membaca buku. Nafisah mengangguk.

Dengan gugup Nizar mulai berbicara pada Nafisah. Di awali dengan keingin tahuanya terhadap kriteria seorang wanita dalam mencari pasangan hidupnya.

Nafisah menutup bukunya dan mulai menjawab“ Setiap wanita punya ciri khas masing-masing, juga punya kriteria masing-masing dalam memilih pasangan hidupnya. Jadi saya gak bisa menjawab dengan satu pandangan saja. Karena itu sifatnya perorangan bukan kolektif”

“ Mohon maaf bukan maksud lancang, jika neng Nafis sendiri?”

“ Jangan membawa embel-embel neng, panggil saja saya Nafis lebih enak. Itu Cuma gelar sama halnya seperti Raden ajeng ataupun Raden Ayu. Saya adalah manusia yang selalu mengharapkan hal baik dalam hidup. Pastinya saya mengharap keempat elemen dalam mencari pasangan itu, terpenuhi seluruhnya. Tapi ketetapan tuhan tidak bisa dirubah, suatu hal yang kita pandang baik belum tentu baik menurut tuhan. Manusia hanya bisa berencana dan ikhtiar, untuk hasil cukup tuhan yang tau”.

Dengan menahan rasa malu Nizarpun mulai jujur.

“ Saya adalah lelaki yang hampir melupakan tuhannya, tapi saya menyukai sosok wanita  seperti kamu”. Ia jelaskan semua tentang dirinya bahkan tentang kelalaiannya terhadap shalat. Nafisah gemetar saat mendengar ucapan Nizar. Hatinya serasa runtuh menyaksikan pengakuan yang tidak mudah bagi dirinya sendiri. Ia merasakan bahwa dirinya begitu munafik.

“ Apakah mas Nizar menganggap saya adalah wanita paling suci? Tidak mas, memang mungkin orang melihat dzohir saya baik. Tapi sebenarnya batin saya tak sesuci yang mereka kira. Kesalahan saya terhadap sang khalik bagai tumpukan pasir yang tak terhitung. Siapapun berhak mencintai seseorang, karena itu anugerah tuhan.Gak ada larangan untukmu menyukai saya bahkan masih sangat pantas kamu menyukai wanita yang lebih baik dari saya”.

Nizar tidak berani mengangkat kepalanya. Pikirannya terombang-ambing.

“ Sekarang giliran saya bertanya, apakah mas benar-benar menyukai saya dari hati dan karena tuhan? Jika benar, saya harap itu bukan sekedar omong kosong. Buktikan! Silahkan benahi shalatmu setelah itu datanglah ke rumah. Temui keluarga saya, ungkapkan semuanya di hadapan mereka.Kita bisa berbenah bersama untuk bisa menjadi makhluk yang pantas di hadapan tuhan”. Ucapan Nafisah yang kias namun jelas itu membuat Nizar terkejut bukan kepalang. Tak pernah terpikirkan bahwa dia akan mengatakan hal yang demikian padanya.
***
            Demi  menepati janjinya, dan karena keseriusannya Nizar perlahan membenahi hubungannya dengan sang khalik. Hingga menjadikan kedua orang tuanya merasa heran. Jika dulu ia shalat subuh di waktu dhuha, kini sebelum subuhpun ia sudah bergegas ke masjid. Demikianlah perjuangannya meraih kembali cinta tuhan. Dan sampai pula di mana ia harus mendatangi keluarga Nafisah.

            Sesampainya ia bertemu langsung dengan kakek dan ayah Nafisah. Terlebih dulu ia memperkenalkan diri. Kemudian menyampaikan niat kedatangannya kepada keluarga Nafisah. Tanpa ada keraguan ia menyampaikan bahwa dirinya menyukai Nafisah. Dan iapun menyampaikan tentang latar belakang hidupnya selama ini. Kakek Nafisahpun menyimak dengan baik pengakuan Nizar. Jauh berbeda dengan ayah Nafisah, ia menolak dengan keras jika putrinya harus berkeluarga dengan Nizar. “ Cukup, Apakah kamu manusia yang suci Ilham?” bentak kakek kepada ayah Nafisah. Kemudian iapun diam, dan tak lagi berbicara.

“ Kamu pemuda yang berani, pulanglah dan kembalilah bersama orang tuamu kesini” ucap kakek Nafisah. Iapun mengangguk dan berpamitan pulang.

Setelah Nizar pulang sang kakek menghampiri Nafisah di kamarnya. Kakeknya bertanya padanya apakah keputusannya benar-benar bulat menerima Nizar. Nafisah mengangguk menjawab pertanyaan kakeknya itu. Baginya pernikahan itu bukan sekedar mempersatukan cinta, melainkan juga sarana pembenahan diri untuk menjadi makhluk yang sejati di hadapan tuhannya. 
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments