[Cerpen] BURUNG PUYUH

Advertisemen
Setiap malam suara musik yang aku dengar, dengan bunyi sangat begitu kasar, hingga meniadakan sinar, tidak ada  juga hal yang wajar. Walaupun itu semua bukan bersih keras dan tanpa dilaras, bagaikan sarang burung yang bebas untuk melepas. Pintu di depan aku tutup, melihat di luar rumah banyak orang yang kehujanan dengan pakaiannya yang basah kuyup. Terdengar suara musik yang sangat begitu keras, dihantam oleh suara hujan yang begitu menderas, menjadikan suasana di dalam rumah yang cukup lumayan untuk bernafas.
Ketika itu, aku duduk di sofa yang berada di ruang tamu, tak lama kemudian ada bunyi ketokan pintu, yang membuat hatiku terasa pilu, dengan badan yang kaku, aku tak tau, mengapa hatiku tiba-tiba terasa takut, sehingga kulitku menjadi kerucut dan mulutku membelengut. Aku lihat dari jendela, tak seorang pun yang ada. Aku mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu itu, menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada apapun yang bisa-bisanya mengetok pintu ini. Tepat pada posisi tempat aku berdiri, yakni di depan kakiku ada sehelai kertas, yang berisi karya tulis, dengan kata-kata yang puitis.
Kerjaku tiap hari hanya termanggu-manggu
Menunggu dan menunggu
Dari waktu kewaktu
Badan sampai nyilu
Tapi yang ditunggu tak mau tau
Lidah kan bicara terasa kelu
Sedangkan waktu terus berlalu
Mau ketemu
Rasanya malu


Setelah aku membacanya dengan perasaan yang mendalam, tiba-tiba aku berpikir “siapa yang menulis karangan yang singkat dengan makna yang begitu padat?”. Lalu aku melihat di balik helaian kertas, ada namanya yang menulis karangan sajak itu. Ternyata yang menulis sajak itu namanya Hany, orangnya imut, centil dengan rambutnya yang pendek  dan tingkah lakunya seperti laki-laki alias tomboi, dia adalah tetanggaku.
Sejak saat itu aku terus-terusan berpikir, bagaimana aku bisa memulai mengukir, tentang hidupku yang menjungkir, menghinggap pikiranku menjadi kikir untuk berpikir. Padahal si Hany itu se-angkatan denganku, dia hanya lulusan SMP yang tidak melanjutkan SMA nya, disebabkan biaya yang minim padahal pekerjaan sehari-harinya hanya membantu dan membantu kepada pamannya yang lagi sakit struk dan bibi nya menjadi tulang punggung rumah tangga, sehingga aku susah untuk bertemu dengan Hany. Ternyata Hany itu bisa mengarang kata-kata yang indah, dikarenakan dia sangat rajin untuk membaca buku karangan-karangan persajakan.
Dari situlah aku bisa sadar walaupun aku tak bisa menyadari, mengapa diriku yang lulusan sekolahannya lebih tinggi dari pada Hany, masa depanku yang buram, oleh kabut-kabut yang menghantam, hingga membuat pikiranku menjadi suram dan aku takut untuk menyelam lebih dalam. Sehingga aku tak mau menjadi aku, akan tetapi waktulah yang menjadikan diriku.
Aku mencoba untuk merubah sedikit demi sedikit yang keseharianku selalu mendengarkan musik untuk membaca buku-buku yang berisi tentang memotifasikan kehidupan yang menjanggal. Dengan itu aku bisa berubah walaupun sedikit, sehingga aku memberanikan untuk melanjutkan perkuliahan. Yang dulunya aku gak mau melanjutkan sekolah tinggi. Walaupun sudah diperintahkan oleh kedua orang tuaku, aku tetap tidak mau untuk melanjutkannya. Tetapi sekarang aku yang minta untuk melanjutkan pendidikanku.
Di pagi hari bertepatan pada hari Selasa, aku bersiap-siap untuk mencari perkuliahan yang ada fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia. Ternyata temanku yang bernama Anton itu sudah masuk di Perguruan Tinggi bahkan siAnton itu masuk fakultas yang aku cari itu. Setelah aku bertanya-tanya tentang perkuliahannya yang sudah hampir selesai perjalanan yang ditempuhnya, bahkan dia tak mau kalah kata-katanya itu dengan sastrawan-sastrawan yang legendaris alias sudah terkenal. Dia mengeluarkan sebuah sajak karangannya dia sendiri tentang kritis terhadap pemerintahan. 
Berusaha untuk tenang
Mencari tempat yang terang
Bangsa ini terasa petang
Dihantui oleh bintang-bintang
Pada hari Rabu. Aku berdiri di ruang tamu. Walaupun saat itu, aku hanya bisa membelenggu, pikiranku menjadi buntu dan mulut yang membisu. Memang semua itu yang tidak aku harapkan, sehingga pada di akhir zaman aku harus bisa menerima yang telah membebani pikiran, dan apa yang telah aku perbuatkan.
Tak lama kemudian. Ada seorang gadis memanggail-manggil namaku. Aku langsung keluar dari rumah dan meninggalkan ruangan tamu itu. Ternyata gadis itu adalah Hany, dengan memakai gaun yang sangat begitu indah, sampai-sampai aku terdiam sejenak sehingga bukan aku yang menghampiri Hany. Akan tetapi Hany yang menghampiri aku. Gara-gara aku tercengang melihat Hany. Lalu aku berkata.
“Terima kasih Hany. Sudah merubah keseharianku yang suram menjadikan aku lebih berani untuk menyelam di pesisir pasir yang sangat begitu malam.”
“Iya sama-sama. Tunggu dulu, emannya aku memberi apa kepada kamu. Kok bisa-bisanya mengucapkan terima kasih kepadaku?.”
“Jangan berpura-pura Hany. Iya sudah lah jangan dibahas lagi. Ayo kita masuk dulu, aku sangat bangga dengan sajak kamu itu.

Tak kusangka, tak kuduga, begitu juga tak kudamba, semua berubah menjadi bisa, walaupun aku mengada bahkan aku bisa berjumpa sehingga aku bertatap muka. Waktu akan terus bergulir, sehingga waktu lebih gampang untuk diukir. Memang waktu itu sebentar, apabila waktunya itu dipakai dengan kasar. Sebenarnya semua itu lumayan panjang, jika terus-terusan dipandang. Bahkan waktu itu bisa terlihat akan lebih panjang jika aku dan Hany terbang dan melayang.
Cerpen, 16 Desember 2013 – Oleh Aminullah
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments